Pages

Ads 468x60px

Labels

Sunday, 6 July 2014

Why Do Some Entrepreneurs Decide to Give Up? Exploring The Causes Through Cognitive Maps



Here is the article resume of Nabil Khelila & Matthijs H.M. Hammer:
TITLE
"Why do some entrepreneurs decide to give up?
Exploring the causes through cognitive maps"
With authors: Nabil Khelila & Matthijs H.M. Hammer

Picture Source: noleynols.wordpress.com

CONTENT
The aim of this paper is to contribute to a better understanding the complexity of entrepreneurial exit by proposing an integrative and typological framework. This study seeks to provide tow main contributions.
First, given the little research integrating in the same studies the individual and firm levels of analysis, the current research propose an integrative theoretical framework based on entrepreneur/new venture dialogic and highlighting the multidimensional, the multiform and the paradoxical aspect of entrepreneurial exit.
Second, despite the wide use of cognitive approach in entrepreneurship, only a few studies have used cognitive maps as a tool for understanding the “negative entrepreneurial outcomes”, such as the exit decisions of entrepreneurs.

METODOLOGY
The methodological framework is based on cases studies of four entrepreneurs who have made the entrepreneurial exit decision. Based on cognitive mapping approach, the method used is this paper is divided into three stages.
The first stage explores the view of the entrepreneur with regard to his/her exit experience and is based on non-directive interview.
The second stage applies the cross-impact “cognitive matrix” in an effort to define the relationship among the concepts gathered during the first stage.
In the final stage, the cognitive map composed of concepts and links is analysed in order to identify the root causes of entrepreneurial exit.
RESULT
The findings of this qualitative study show that entrepreneurial exit is not the exclusive consequence of the presence of positive or negative exit reasons, but the immediate result of the interaction of six key dimensions that this research aims to explore, describe and classify.
The resulting analytical framework can be used as “visual support” by researchers and professional actors to provide an overall view of the entrepreneurial failure phenomenon, to better analyze its causes, and to build strategies for avoiding tragic and traumatic exit experiences.




Source: Khelil, N., Hammer, M. H. M., (2013), "Why do some entrepreneurs decide to give up?Exploring the causes through cognitive maps". 


Saturday, 28 June 2014

Tentang Golongan Darah A

------------------------- golongan darah O ---------------------------------
Makanan yang harus dijauhi GolDar #O: cumi2, gurita, kerang, telur puyuh, yogurt, minyak kelapa, susu sapi, es krim, jagung
Makanan yang harus dikonsumsi O: daun selada, sayur brokoli, rumput laut, buah bluberry, buah ceri, kacang polong, jahe, daging
GolDar #O ketika bertemu dengan orang yang ia sukai, bingung, dan tidak tau harus berbuat apa
#O itu cenderung keras sama diri sendiri tapi tidak untuk orang lain
Urusan waktu, #O paling gak bisa yang namanya menunggu.
Bagi #O, penampilan itu... apa saja. asal gak kaku dan bisa bikin percaya diri
#O itu curhatnya biasanya sama #AB, walaupun ujung2nya malah diceramahin AB, tapi O justru suka kritikan yg membangun
#O selalu ingin jadi yang terdepan, tingkat percaya diri tinggi, tapi gampang menyerah kalau sudah gagal
#O itu sering dijadiin pemimpin
Kebiasaan dari #O: keras kepala, pingin punya teman baik yg banyak, gak terlalu suka sama tekanan
Eh #O, masih sering galau gara2 masalah?
Kamu #O ya? | Kok tau? | Karna kamu itu suka humor, seneng diskusi & ternyata romantis juga
Hidup #O itu kental banget sama prinsip. bahkan hal sepelepun itu harus ada aturan mainnya
#O itu suka merugikan diri sendiri demi hanya 1 orang yang penting di hidupnya. abis itu nyesel sendiri dianya
#O itu kalau lagi marah kadang orang yang gak bersalah kena getahnya juga-_-
#O itu tingkat kelabilannya paling tinggi, perasaannya juga suka berubah-ubah kayak bunglon/?
#O itu paling sering di kecewain temen deketnya. padahal O sering banget mengalah
Senyum itu udah jadi nafasnya #O
Punya teman harus diingat
Jangan ingat cuman pas ada maunya
GolDar #O bukan tipe penjilat
Nggak suka, bilang apa adanya
#O di hubungin mantan lagi yaa? awas cinta lama balik lagi loh/?
Pagi #O, O itu pulang pagi, besoknya berangkat lagi. kalau kesiangan ya paling gak masuk dianya
#O itu ngalong karena moodnya lagi bagus
#O itu memangnya egois?? kamu gak liat apa? mereka itu pedulian lohh
#O "Hidup untuk membuat semuanya menjadi bahagia"
#O itu kalau udah males bikin tugas, bakal ditinggalin deh itu tugas. tapi, pas mau dikumpul, dia langsung gunain the power of kepepet/? wkwk
Hey #O, kamu itu setia kawan banget, cuma gampang dikibulin?
Ciyeee #O yang demen makan tapi gak gendut2 ciyeee
Ibarat tawon, #O gak bakal nyerang kalo dia gak kepepet/?
\#O itu kalau bawelnya lagi kumat, orang2 di sekitarnya pasti bilang "ini anak ngomong apa sih, gak jelas masa-_-"
#O itu kalau udah marah bawaannya pasti diem, dan mau ngomong lagi kalau keadaan hatinya udah stabil
#O itu orangnya dewasa, berpikir panjang, dan paling bisa mengerti apa yang sedang orang lain rasakan. bener kan?
#O itu egois tingkat dewa, tapi kadang bisa jadi peduli banget sama orang lain
#O itu kalau lagi nangis gak butuh di hibur, dia hanya perlu di tinggal sendiri
#O paling sering ngertiin orang lain, tapi gak pernah dingertiin
#O itu kalau udah sama kelompoknya, lebaynya gak ketulungan dan jadi moodboster buat yang lainnya
#O itu tetep baik sama orang yang ngejahatin dia
#O itu kalau suka sama orang sulit dipendem. tapi, kalau cemburu jago banget nyembunyiinnya
#O itu suka yang namanya adu mulut, bentak-bentak orang. tapi, setelah itu dia bakal ngerasa bersalah terus nangis-_-
#O itu kalau lagi jutek, jangan dijutekin balik. itu kode supaya di baikin/manjain/?
#O itu suka ngedumel didalem hati
#O itu gak bisa frontal
#O itu kalau lagi di kelas bawaannya gak bisa diem. Bener?
Hey #O, masih suka nyeletuk?
#O "To me, trust is everything"
#O itu suka canggung kalau ngomong sama orang yang disuka. bahkan kadang sampe mau ngomong tapi mulutnya O gak bisa gerak/?
#O itu kadang garing, kadang lawak. tapi kebanyakan lawaknya/?
Katanya, #O itu kalau ada temen minta traktir pasti bakal di traktir. tapi, kalau saudara minta traktir, kadang O pelit
#O itu kalau nasehatin orang kata2nya bijak banget
#O itu pinter banget nyembunyiin masalahnya seolah2 gak ada apa2

Sumber: FP golongan darah RP

Friday, 30 May 2014

Berhijab di Negeri Eropa


Hijab adalah harga mati untuk ku (InsyaAllah), namun sekali lagi dunia itu memang penuh dengan pilihan. Pernah ada yang bertanya "Dede kenapa kamu menutupi rambut mu seperti ini?", aku ngejawab: Ini bentuk penghambaan ku ke Tuhan. Aku beragama islam, dan wanita islam dituntun untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan kami seperti ini. Lalu dia bertanya lagi "lalu kenapa kamu tidak bercadar?", aku menjawab: Untuk beberapa Negara memang punya perbedaan dalam cara berpakaian tapi itu ga masalah karena intinya adalah menutup aurat (seluruh tubuh, kecuali telapak tangan dan wajah). Atau aku juga pernah ditanya "kenapa kamu berhijab lalu ada muslimah lain tidak?", Itu pilihan dia tapi tuntunan islam muslimah itu berhijab, jawabku. 

"Aku, kamu, mereka tentu saja manusia punya jalan pikiran dan hati yang berbeda"



mungkin aku cuma bisa bilang "pilihan" seperti hal nya ada pilihan "surga dan neraka, bahagia dan sedih, dan seterusnya". Tapi aku percaya bahwa semuanya hanya menunggu waktu, pada akhirnya aku yakin setiap muslimah punya keinginan yang kuat untuk berhijab tapi mungkin skenario kami saja yang berbeda "aku duluan lalu kamu, atau kalian duluan baru aku, atau apa pun alasannya".
Yang pasti hijab ini adalah sebuah "penghambaan" seorang muslimah kepada Nya. Terlebih di Negeri Minoritas muslim ini, mungkin akan ada banyak hal unik bagaimana seorang wanita berhijab dipandang. Seperti yang pernah aku alami dalam perjalanan ke Paris, tiba-tiba ada seorang dari London yang berbicara tentang teroris. Tapi sungguh muslim bukanlah teroris, disaat itu terjadi sebenarnya karena ada kelompok sangat super minoritas (garis keras) di dalam islam yang punya pemikiran berbeda.

Namun penjelasan saja sepertinya itu belum cukup, mengingat banyaknya isu negatif tentang keberdaan muslim. Sesungguhnya menjadi seorang penganut islam menuntun seseorang untuk menjadi penebar kebaikan. Kalau pun ada sisi negatif, pasti itu hadir dari sisi manusiawi seseorang tersebut, baik itu aku atau pun muslim lainnya. Kami dituntun untuk menebarkan kebaikan, senyum, saling menolong, bersabar, cinta perdamaian, taat, rendah hati, tidak mendendam, loyalitas, profesional, tekun, senang memberi, dan lain-lain.



"Tak kenal maka tak cinta, itulah mungkin sebuah ungkapan yang aku tawarkan kepada siapa pun Anda yang masih berpandangan buruk pada muslim"

Saling menghargai dan hidup berdampingan dengan penuh bahagia. Toleransi itu bukan berarti seseorang harus mengikuti cara berlaku penganut yang lain, tetapi terbuka menerima perbedaan dan menghargainya sebagai suatu "pilihan kepercayaan". 
Pengalaman pertama aku berhijab di Negeri Eropa saat menginjakan kaki di Belanda. Waktu itu aku sedang menunggu kereta menuju Enschede dari Amsterdam (Schipol). Aku menemui seorang Bapak (*kayaknya bule belanda) sedang berdiri sekitar selangkah di samping ku. Saat itu aku melihat secara sekilas ada sebuah bungkusan--berwarna coklat yang dari tulisannya sepertinya sebungkus humburger--jatuh dari tas-nya. Dengan cekatan aku langsung mengambil bungkusan itu dan menyerahkannya dengan baik-baik pada Bapak itu seraya berkata "Ini Bapak punya?". Seketika dia langsung merespon seperti agak kaget, kuatir, ngeri, sambil dengan tegas mengatakan "NO!" dan pergi menjauh. Untuk ukuran budaya Indonesia aku pikir itu agak kasar, tapi aku cuma berpositif sangka mungkin beliau memang sedang buru-buru atau mungkin memang nada bicara disini seperti itu.
Dan hanya beberapa menit setelah itu seorang kenalan seperjalanan ku (Ibu Nisa) yang juga seorang muslimah berhijab mengatakan "Kamu harus memaklumi De' (*Nama ku Dede), disini mereka memang bersikap agak tidak suka dengan seorang muslim apalagi jika dia berhijab salah satunya seperti respon Bapak yang tadi". (Kurang lebih inti penyampaiannya seperti itu).

Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah 4 bulan lamanya aku menjalani kehidupan sebagai seorang muslimah di Negeri minoritas muslim ini. Dan selama itu pula aku menemukan beberapa fakta dari kehidupan berhijab di sini.

1. Berhijab tidak dilarang
Mungkin kamu pernah mendengar kabar kalau berhijab dilarang di Eropa. Khususnya di Belanda, dengan tulisan ini aku menegaskan, "Tidak sama sekali!". Ini lah buah manis dari yang namanya HAM (Hak Asasi Manusia) yang diakui seluruh dunia sehingga tidak ada hak sama sekali bagi seseorang melarang orang lain berbuat sesuatu, terlebih hal tersebut sama sekali tidak merugikannya. Toh berhijab cuma perkara mudah, yakni menutupi seluruh badan (kaki, lengan tangan, badan), ditambah sehelai kerudung (dalam bentuk apa pun itu untuk menutupi seluruh rambut sampai minimal di dada). Jadi berhijab sama sekali tidak dilarang, pun saat aku mengunjungi Paris tidak jauh berbeda dengan Belanda. Bahkan uniknya pengguna hijab di Paris justru terlihat lebih banyak daripada di lingkungan Belanda. 
Jangan kuatir untuk menggunakan hijab, bayangin jika dalam keadaan sedang tidak mengingat Allah saja, kita selalu merasa dilimpahkan banyak rahmat oleh-Nya. Apalagi saat kita menjalani hari untuk tetap konsisten atas penghambaan pada Nya, InsyaAllah keberkahan akan selalu terlimpah. :)


2. Berhijab kadang membuat performance jadi sesuatu yang "tanda tanya"
Ini sebenarnya cuma pengalaman pribadi dan lebih subjektif, tapi mungkin bisa sedikit memberi gambaran. Mungkin karena muslimah berhijab itu jarang, dan prestasi lebih banyak berkilau oleh yang  bukan berhijab dan bukan muslim. Itu membuat aku pada awalnya sempat merasa "nothing". Namun Alhamdulillah, betapa terkejutnya aku karena pada sebuah matakuliah "horor" (*sebutlah begitu, karena dosennya terkenal sangat "selera tinggi alias ketat (*ups Sorry)" dalam memberi nilai, apalagi untuk satu matakuilah tersebut ada dua sub mata kuliah yang keduanya harus dapat nilai excellence kalau mau dapat sempurna. Dan "wow!", Subhanallah hasil akhir membuat bukan hanya aku yang terkejut tapi juga teman-teman sekelas. Seperti yang diduga dosennya menilai dengan sangat jeli dan tes yang cukup ketat, terbukti dengan banyaknya komentar waktu tidak cukup, nilai yang dikasih terlalu kecil, dll. Dan aku dapatkan nilai sempurna, bisa di bilang seperti nilai pencilan (*tinggi dari rata-rata nilai kelas) yakni 9 koma dari sekala 10. Ada teman-teman yang bertanya "Bagaimana bisa?..", "kamu belajar kayak bagaimana?..", "Apa rahasianya?..". 

"Mungkin hal ini mengejutkan karena seorang wanita yang berbalut kain dikepalanya, ternyata diam-diam lebih dari yang disangka"

Dan untuk mempersingkat jawaban pertanyaan-pertanyaan itu jadi aku pun menjawab, "I was just lucky". Tapi dibalik itu ada do'a yang berderet panjang penuh pengharapan dan kepasrahan, dan ikhtiar tentunya. Islam mengajarkan aku untuk "Bersungguh-sungguh".
Bolehlah aku kutip kata teman ku, "kita perlu hard work dan hard play" dan mungkin aku tambahin jadi "kita perlu hard work, hard play dengan smart way". Hard work maksudnya "Kalau lagi belajar, yah belajar!", ga peduli berapa halaman tebalnya, ga peduli sampai "pantat keram" (*ups sorry) waktu duduk belajar, ga peduli meski ngulang baca sampai 3 kali, ga peduli harus ngapal gimana modelnya, sampe kepala berasap (*ah lebay haha) semuanya dijalani dengan totalitas. Hard play maksudnya kalo lagi libur, ga ujian baru kita bermain ria. Namun semuanya itu perlu smart way, ngejawab soal pake strategy yang efektif biar meskipun punya waktu yang sedikit tapi bisa dijawab dengan optimal, rencanain liburan yang efesien biar duitnya bisa dipakai jalan-jalan ke banyak tempat, dan semua dari segalanya meminta terus pertolongan Allah.
Pada sisi mana pun "performance" itu bukan sesuatu yang bisa dinilai di awal, tapi di akhir. Hijab justru menjadi motivasi untuk selalu melakukan yang terbaik.

"Aku dan Kamu adalah benar-benar Aku dan Kamu, bukan perkara hijab. Hijab adalah penghambaanku pada Allah dalam menjalani hidup."

3. Berhijab membuat unik dan berbeda
Kalau orang lain ngelilitin scraf dileher, para penghijab dengan rapi dan berseni menutupi bagian rambutnya dan dadanya dengan scraf itu. Owh yah ngomong-ngomong salah satu fenomena kenapa muslimah di eropa kebanyakan menggunakan scraf--atau di Indonesia kita bilang pashmina, itu mungkin alasannya sederhana "karena disini yang bisa mudah dibeli sebagai penutup kepala yah scraf". Jadi menurut pendapat ku, bukan karena niatan fashion kebaratan atau bla-bla... malah lebih ke culture, karena menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Di saat perintahnya adalah yang penting kerudung menutupi rambut sampai minimal dada jadi menggunakan bahan dan jenis kain apa pun InsyaAllah tidak masalah. Awalnya di Indonesia aku pikir kerudungan kayak gitu terlalu "berorientasi fashionable", eh ternyata disini justru efesien karena harga scraf relatif lebih murah dan mudah di dapat. Berhijab justru ngebuat penampilan seorang wanita selain lebih santun juga unik di kalangan masyarakat sini. Wajar saja karena mayoritas wanita membuka tubuhnya, malah kita membalut sampe kepala. Ini unik dan "Anti mainstream". Sebagai muslimah, aku sebenernya mendukung muslimah untuk bisa mengekspresikan diri dalam berhijab selain sebagai bentuk Ibadah. Yah tentunya tetap dengan tuntunan syari'ah Islam, seperti tetap menutupi aurat, tidak transparan, tidak berlebihan, bukan berniatan untuk menggoda cowok, dll. :)
Kadang perbedaan itu membuat "jarak", namun dengan semakin banyaknya orang cerdas dan berfikir luas di dunia ini membuat aku ga terlalu mengalami kesulitan untuk berteman. Di Belanda aku belajar di kelas internasional yang isinya mahasiswa dari beragam Negara, sebut saja perancis, denmark, negara di afrika, rusia, cina, jerman, hungaria, belanda, dan mungkin ada lagi lainnya (*tapi aku lupa atau tidak tau, hehe). Mereka semua sangat open mind dan menghargai perbedaan agama. Bahkan saat kami ada party di rumah salah satu teman sekelas, teman ku tersebut--yang tempatnya dijadikan tempat party--pun tidak berkebaratan saat aku meminta izin untuk meminjam space dirumahnya untuk ngelaksanain shalat. Dengan senang hati dia, menunjukanku ruangannya, dan tempat yang bisa untuk ngambil wudhu. Mereka tidak keberatan saat aku bilang, "aku ga bisa makan daging babi", atau "aku ga bisa minum alkohol", atau "aku habis ibadah", atau "aku mau ibadah".
Bergaul bukan berarti melebur, ada saatnya kita harus mengenyampingkan budaya tapi kalo masalah syari'ah itu harga mati. Karena ini urusannya adalah "antara Aku dan Tuhan". 
Setiap malam kamis, jumat, sabtu, minggu adalah jadwalnya "pesta mabok". Sebut saja "pesta mabok" karena kumpul-kumpul di sini selalu identik dengan alkohol. Sudah membudaya bukan hanya pada kalangan muda tapi juga seluruh usia. Biasanya muda-mudi berkumpul dulu di satu rumah lalu katawa, having fun plus alkoholan, jam 12 malam atau setelahnya kadang dilanjutkan dengan rame-rame ke pusat kota untuk ngumpul di Pub. Di sana (Pub) tempatnya joget-jogetan yang padat dan saat bermabok akan semakin meriah dan "menjadi", karena nyaris hampir semua sajian minuman-nya adalah alkohol kecuali kalau kamu pesan yang lain. 
Kalau jadwal jenis party yang seperti ini aku lebih memilih untuk tidak ikut. Bukan karena mau menutupi diri, cuma ingat pesan Nabi "kalau kamu mau baik berhijrahlah dari tempat yang mencondongkan mu untuk melakukan yang Allah tidak sukai". Karena tanpa kesana pun, ada saatnya kita menjadi tidak tekun ibadah, melakukan dosa, apalagi jika sering ke tempat tersebut malahan nimbulin banyak kemungkinan dosa lainnya. Tapi ga musti orang yang ke Pub itu negatif kok, karena ada juga teman Indonesia ku yang kesana namun hanya sebagai bentuk pengakraban saja tanpa "minum-minum alkohol". Tapi berdasarkan rekomendasi dari dia, katanya tempat itu sangat-sangat tidak baik, jadi sebaiknya jangan kesana "sekali" pun. Party yang biasa aku ikuti kalau acaranya bukan di Pub, dan tidak dimulai saat larut malam (*karena selesainya kapan :P kalau mulai aja sudah larut malam). Atau acara rekreasi ringan di siang hari bareng teman-teman. 
Namun tenang saja, meskipun aku atau muslimah berhijab lainnya agak berbeda seperti pada umumnya kaum muda di sini tapi semua itu tidak akan mengurangi rasa pertemanan di antara kami. Perbedaan itu justru membuat kita bisa saling melengkapi. Seperti kangkung tumis, mana mungkin enak kalau cuma kangkung yang ditumis. Dibutuhkan juga garam, bawang, dll untuk melangkapi cita rasa. Perbedaan ini justru membuat ku tersenyum sadar bahwa Bumi Allah ini begitu luar biasa beragam dan membuatku bisa berpikir dengan lebih luas.

4. Berhijab membantu aktifitas ibadah
Di Indonesia sangat banyak kita temui masjid, mushola, dimana tempat-tempat tersebut sudah lengkap dengan perlengkapan sholat seperti mukenah. Berbeda dengan disini yang cuma ada beberapa masjid, waktu shalat saja tidak pernah terdengar azan. Dan tidak ada sarana ibadah di tempat umum, seperti di station, mall, tempat wisata, dll. Kalau sudah begini, jangankan untuk shalat, berwudhu saja terkadang harus menggunakan debu mengingat kondisi yang tidak memungkinkan seperti di dalam kendaraan, jauh dari wc, dll. Nah, inilah fleksibelnya hijab. Karena dengan hijab, aku tidak perlu ribet lagi cari mukenah. Tinggal berwudhu langsung shalat, terkadang kalau sempat aku cuma cukup membawa sajadah. Karena biasanya kalau di tempat umum yang masih ada lowong kayak di taman yang lagi sepi, aku bisa shalat berdiri dimana saja. Namun lebih sering kalau tempat umumnya padat orang berlalu lalang atau tidak memungkinkan, aku shalat sambil duduk. Yang pasti shalat 5 waktu jadi lebih fleksibel di mana pun. Maka dari itu sebaiknya pengguna hijab menyempurnakan hijabnya, misalkan dari yang celana ketat jadi agak longgar, dari yang tidak berkaos kaki jadi berkaos kaki, dari yang jilbabnya transparan coba pilih yang agak tebal atau coba pakai dalaman kerudung. Kalau sudah menutupi aurat maka cukup bermodal air atau debu dengan sedikit space untuk shalat maka kamu bisa shalat dimana pun kamu mau dengan berhijab. :D

5. Berhijab membuat mu merasakan "muslim experience" 
Kamu mungkin pernah masuk ke hotel atau tempat tertentu yang butuh identifier, pengunjung biasa mungkin cuma terhenti sampai di lobi (*ruang tunggu di depan front office) atau kalau pun mau masuk maka mereka perlu mendaftar secara manual yang membuang waktu. Tetapi seorang dengan identifier bisa mengakses banyak fasilitas di ruang-ruang hotel tersebut dengan hanya meng-tab identifier nya. Dengan itu lah mereka merasakan sebuah "customer experience" yang berbeda. Seperti itulah kurang lebih aku menggambarkan poin pengalaman berhijab di Enschede dan Paris, dua kota dari Negeri Eropa ini. 

"akan kamu temukan orang yang tiba-tiba datang menghampirimu untuk hanya sekedar senyum dan mengucapkan "Assalamu'alakum" ".

Yah, hangat sekali rasanya melihat senyum nya meskipun mungkin dia punya native yang berbeda atau bahkan tidak bisa berbahasa inggris sama sekali. Tapi kami dipersatukan dengan satu kata indah "Assalamu'alakum" tanda persaudaraanUngkapan itu merasuk lembut ke hati ku, bahkan membuat aku terharu melihat betapa ia mengenali aku hanya dari sehelai kain yang menutupi rambut ku ini. Dan seketika itu juga hati-hati kami saling "connecting", merasa bahwa kami menyembah Tuhan yang sama dan berpegang pada Risalah seorang Nabi Pengukir umat terbaik (dia Nabi Muhammad saw.).
Beberapa kali dalam perjalanan tiba-tiba ada pria paruh baya yang melihat aku dengan senyum sambil mengatakan "masyaAllah". Kalau di Indonesia masih ada yang salah sangka tentang makna "masyaAllah". "MasyaAllah" sebenarnya digunakan saat kita melihat hal-hal yang baik. 
"MasyaAllah digunakan untuk menunjukkan kekaguman terhadap seseorang atau kejadian. Ini digunakan sebagai ekspresi penghargaan, sementara dalam waktu yang sama juga sebagai pengingat bahwa semua pencapaian bisa terjadi karena kehendak-Nya. (Sumber: inilahrisalahislam.blogspot.nl dan id.wikipedia.org)."
Pengalaman lain, saat di Paris ada yang tiba-tiba menawarkan aku untuk nginap di rumahnya secara gratis karena dia tahu aku seorang muslim. Aku juga pernah tiba-tiba diajak ngobrol dengan seorang pria dengan bahasa yang tidak aku kenali "bahasa apa itu", setelah diperhatikan sepertinya itu salah satu bahasa di Negara mayoritas Islam bagian tertentu. Awalnya aku terkejut kenapa pria (sekitar usia 28-30 an) tersebut tiba-tiba ngajak ngobrol dengan bahasa seperti itu. Aku cuma bisa jawab, maaf aku tidak mengerti, aku bisanya bahasa inggris. Baru belakangan aku tau dia seorang muslim, saat temannya datang menyapanya, dan mereka ngobrol dengan sesekali megucapkan kalimat tayyibah. Kalau tidak berhijab, mungkin pengalaman ini akan tidak mudah didapat. hehe.. :D

(Aku dan hijab, seutas rangkaian kisah Berhijab di Negeri Eropa)


Sabtu, 31 May 2014
Enschede, Netherlands

Sunday, 27 April 2014

Sama Kok

Tanpa sengaja waktu itu aku pernah berada di dalam percakapan dengan "seseorang", tapi lebih tepatnya aku menjadi pendengar. Karena sengaja memposisikan diri seperti itu sebab waktu diperhatikan kalau pembicaraan ini aku ikuti arusnya nanti malah jadi perdebatan. Berhubung "aku benci berdebat" tapi aku open minded dengan semua gagasan. Tepatnya waktu ada pernyataan yang kurang lebih maknanya "Kebanyakan organisasi (XXX) itu orang-orangnya sangat semangat beragama tapi sebenarnya tidak berilmu banyak. Yah karena basic keluarganya memang tidak memperkenalkan agama dengan baik. Background keluarga kamu apa?". 
Memang aku akui orang bersangkutan terlihat punya banyak ilmu agama, dan pemahaman yang lebih dalam. Tapi menurut aku pribadi sepertiya tidak tepat menjadikan parameter background keluarga untuk nyatain posisi seseorang. Emang kalo keluarga seseorang bukan ulama, terus masalah?. Kadang seseorang memutuskan "jalannya" juga melalui proses, tidak semuanya bisa dirujuk ke kelurga. Meski keluarga memang benar punya peranan besar untuk nentuin gimana keadaan beragama anaknya. Kalau pun memang ada keadaan-keadaan tertentu tapi itu tidak bisa digeneralisasi. 
Pada dasarnya sebenarnya, jangan sampai kita merasa bahwa "agama saya lebih baik daripada kamu, keluarga saya lebih baik daripada kamu". Karena benar-benar sepenuhnya yang tau keadaan keimanan kita adalah pencipta kita. Selama seseorang itu muslim, sudah sepantasnya kita berbaik sangka, bukan mencari cela. 
Aku sama sekali ga peduli dengan apa yang dinamakan orang dengan "golongan". Karena pun "golongan" itu bagiku hanya sebuah nama, dan apa yang ada dibalik itu aku pun ga tau (*dan ga mau "sok tau"). Selama kamu bersyahadat dan berislam maka sudah jadi keharusan bagi ku untuk berpositif sangka seperti aku berpositif sangka pada saudara-saudara yang lain. Saat ada seorang sahabat ku (beragama lain), beliau sempat bertanya ke aku. "De jadi islam itu punya jenis isi Al Qur'an yang beda-beda yah  makanya kalian terpecah-pecah?". Aku cuma menjawab sambil tersenyum "Seluruh isi Al Qur'an di muka bumi ini sama dan tidak pernah berubah. Kalau pun ada perbedaan diantara kami sebenarnya cuma pada "menyikapinya".
Yah kami muslim punya rujukan yang satu, kitab yang suci lagi mulia yakni Al Qur'an. Senantiasa terpelihara keasliannya sepanjang zaman. Maka sebagai sesama umat muslim mau seperti apa pun jenis golongan mu, pengetahuan agama mu, penyikapan agama mu, keluarga mu seharusnya itu tidak menjadi pengganjal kita untuk tetap menatap setiap dari kita dengan penuh kecintaan karena Allah. Tanpa ada rasa "lebih jago", "lebih benar", "lebih paham", dan semua yang ada kata awalan "lebih-".
Karena benar-benar tidak ada yang mengetahui secara pasti bagaimana "posisi" kita di mata-Nya. Jadi ga perlu lah merasa diri lebih. Jadi inget kata kepala sekolah SMA ku dulu. "tidak perlulah kita saling menyalah-nyalahkan, lakukan saja yang terbaik dalam ibadah mu. Berdebat juga percuma, nanti tong baku (kita saling) ngintip saja sebenarnya siapa yang masuk ke syurga (benar)." Seperti itu lah sentilan guru ku itu kepada orang-orang yang menekan beliau dalam perdebatan agama. Kita semua bersaudara, dan ga ada kepastian tentang siapa yang "sempurna benar", karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Wallahu A'lam



Tuesday, 8 April 2014

Sorong Enjoy Internet, Setitik Mimpi Seorang "Putri Daerah" Papua

Akhirnya, Alhamdulillah sudah lebih dari 2000 anggota di group facebook forum jual beli sorong saat ini. Awal ngebentuknya karena sebelumnya ada komunitas group Sorong yang saya bergabung dengan niat buat tau kabar kampung tercinta (Sorong) kok malah penuhnya dengan tawaran barang-barang dagang. Jadi saya berfikir kenapa ga ditempatkan sesuai kebbutuhannya saja.
Yang mau jual-beli yah ke group yang memfasilitasi itu...
Yang mau cari info Sorong yah bener-bener bakal dapat info sesuai dengan group yang ia datangi..
Ide nya sederhana, dan sudah banyak dibuat di banyak kota... Awalnya cuma puluhan pengguna, ratusan, dan sekarang sampe akhirnya ribuan. Berharap semua keperluan jual-beli warga Sorong bisa terpenuhi disini.
Alhamdulillah sekarang jadi banyak group yang juga ngediain pusat komunikasi untuk jual beli.
Then... Kenapa saya buat ini?
dulu sekitar 2011 saya pernah diketawain dengan seorang yang mendengar gagasan saya tentang penetrasi internet di Sorong, Papua Barat. Ide itu saya garap salah satunya juga untuk ngujudin mimpi saya yang juga tertuang dalam sebuah lomba nasional TIK (Telekomunikasi Informasi dan Komunikasi) yang saya ikuti waktu itu. Cuma bisa terdiam, dan yakinin dalam hati kalo someday kampung halaman ku juga bakalan punya fasilitas yang lengkap untuk ini.
Tapi saya kagum, karena cukup sekitar 2 atau 3 tahun kemudian semua perubahan itu terlihat. Sekarang masyarakat Sorong bukan hanya ngegunain internet sebagai sarana bersosialisasi saja, terbukti sistem sederhana ngejual produk lewat facebook kemudian membelinya. Atau mencari barang via facebook bukan menjadi hal yang ditakutkan.
"Push by demand"
Kalau masih ada yang berfikir infrastruktur teknology itu impossible untuk kita. Saya percaya itu sudah ga berlaku lagi. Bayangin aja banyak negara maju yang bahkan cuma "secuil" tanah bisa menjadi negara high tech, padahal untuk kebutuhan primer saja sepertinya itu seharusnya relatif lebih sulit tapi mereka bisa punya fasilitas secondary needs yang keren. Begitu juga Sorong, tetep masih "kekeh" kalo Sorong juga bisa. Gejala push by demand sama teknologi ini yang saya percayai "sulit atau gampang" bakalan ngemacu daerah ku bisa punya infrastruktur teknologi yang lebih dari standar.
Saya kaget, ada seorang rekan di group facebook FJB-Sorong yang nanya:
"ngepost digroup ini bayar ke siapa?" *(kurang lebih seperti itu)
dan saya bilang:
"gratis"

Itu artinya ada sinyal yang nunjukin sekarang warga Sorong udah percaya untuk transaksi by internet. Ada rasa percaya bahwa internet bakalan ngeberi value added untuk nya.
Saya senang, terlepas dari apapun... poinnya berarti warga Sorong punya daya tarik yang tinggi pada internet. Dengan beriringannya daya tarik ini bakalan ngedorong penetrasi internet, dan bakalan menggiring pemerintah untuk percaya berinvestasi lebih untuk infrastruktur TIK untuk kita.
Memang di saat sudah banyak daerah punya banyak pengalaman dengan ini, daerah kita masih relatif lebih kurang. Tapi bukankah internet adalah salah satu cara untuk wujudin masyarakat informatif, yang diharapin pada akhirnya ini bakalan ngembangin "pengetahuan daerah" untuk mandiri dan sustain dengan kekayaan alamnya.
Saya yakin banget, kalau pemerintah termasuk banyak orang percaya kalau wilayah kita adalah wilayah kaya. Bayangin aja berapa banyak kekayaan alam Papua (khususnya minyak dan gas) yang punya kontribusi untuk pendapatan negara. *(yah meski masih di kuasai non-Indonesia). Yang bakal mempertahankan dan tau betul tentang keadaan kita tentu kita sendiri, jadi ngembangin masyarakat informatif bukan sekedar menjadi investasi infrastruktur yang terlihat tapi juga investasi pengetahuan yang tak terlihat. Kalau masih banyak profesor pintar dari luar negeri yang enggan ke pulau kita walau akan digaji tinggi. It doesn't matter. Internet bakalan nyajiin "apa yang kamu mau". *(kalau dipakai buat yang positive)
Kalau zaman tahun 2009 kita harus bayar warnet sekitar Rp.10.000 *(kalau ga salah ingat) per jam, sekarang saya dengar sudah ada free wifi di beberapa spot. Atau setidaknya PT. Telkomsel masih dengan penuh sukacita mau nginvest untuk sediain kami 3G internet, at least buat ngenet di handphone. Gapapa lah, toh semuanya memang butuh proses.
Semua sedang berjalan kesana walau memang untuk investasi gede masih belum bisa dalam waktu cepat. I believe kalau kita juga bakalan jadi daerah high tech. Di mulai dari budaya akses internet, kepercayaan untuk make buat bantu kegiatan business, belajar dan cari tau. Daerah dengan alam kaya, kalau di poles dengan pengetahuan, akses banyak tempat, government yang bersih. Maka saya yakin, next time bukan lagi pada urbanisasi ke jawa, tapi warga Indonesia malah berbondong ke Pulau Papua.
#Sorong Enjoy Internet

Monday, 7 April 2014

Menariknya Supply Chain Management

Body of Knowledge and Skills
Knowledge (what, why, when, where, how)
•Supply chain management: bullwhip effect, upstream, downstream, WIP, inventories, forecasting, postponement, Pull vs push, push-pull boundary, vertical vs horizontal collaboration, Material requirements planning (MRP)
•Supply chain strategie: low cost, response, differentiation
•Muda, muri, muda
•5 phases of Jim Womack: value, value stream, flow, pull and perfection
•Continuous flow (1-1 piece flow) vs batch production
•Lean managent vs modern management
•Accountability vs responsibility
•7 waste of Ohno (TIM WOOD), not using creativity of users
•Kaizen, Deming (PDCA)
•TPS-house and tools: value stream map (VSM), spaghetti diagram, autonomation, workcombination sheet, 5S, visual management, kanban, SMED, POUS, two bin system, heijunka, (un)leveled scheduling/production, “quality at the source”, andon, poka yoke, jidoka, standardised work, cell layout/U-shape, batch reduction, cross-functional teams, war rooms, standing in the circle, gemba or improvements walk, supermarket, water spider, pacemaker, FIFO lanes
•Goldratt; bottleneck, efficiency, (maximum) capacity
•5S + safety: sort, set in order, shine, standardize, sustain/self discipline
•Cash-to-order cycle
•Value stream mapping: steps, symbols, product family, current state, future state, ideal state
•Metrics; Takt time, cycle time, scrap rate, C/O, Uptime, …
•Lean supplier
•Rules: 3-57, 15-2-20, 1-10-100, road runner
•Total productive maintenance, autonomous maintenance
•OEE: six big losses, yield, line blockers, availability, performance and quality, maximum vs design capacity
•Relation between setup reduction and inventory and deliveries, relation between overcapacity/utilisations, WIP and through put, Little’s law
•Relation between quality, lead time, transparency, efficiency, motivation, flexibility
•Layout: job shop, process layout, product layout, cell layout, fixed position layout


Source: Lecture material in saxion

Saturday, 29 March 2014

Memperbaiki Touchpad yang Tidak Berfungsi

Udah sekitar sekian bulanan entah kenapa laptop aku ga bisa difungsiin "ngeklik di touchpadnya. Udah coba diotak-atik tapi belum nemu solusinya, sampe aku pikir ada masalah hardware. Alhamdulillah setelah baca dari beberapa sumber, aku mutusin untuk ngotak-ngatik lagi... Soalnya ga enak banget kalo harus terus-terusan bergantung sama mouse. Dan ternyata Alhamdulillah masalah terselesaikan. Caranya:
1. Aku mastiin kalo difungsi pengaturan yang standar emang uda bener semua, ga ada yang salah kepencet waktu dulu ato disable
2. Buka "control panel"
3. klik "hardware and sound"














4. Pada "Devices and Printers, pilih "Device Manager"













5. Buka "Mice and other pointing devices, klik kanan lalu pilih "Update driver software.."

























6.Akan muncul jendela kayak berikut, lalu pilih aja "Search automatically..." kayak gambar di bawah ini.
7. Setelah itu kalo ada pertanyaan untuk restart, dipilih aja. InsyaAllah setelah laptop nyala kembali semua, masalah bakalan beres. Good luck ;)